HNW Apresiasi Kegiatan JPRMI Melalui Masjid Selamatkan Gen Z dan Bonus Demografi

| Kamis, 08 Januari 2026 | 07.07 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Wakil Ketua MPR Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A., mendorong Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) untuk berkiprah lebih giat lagi dengan membuat program-program yang efektif untuk menyelamatkan pemuda dan remaja Indonesia, termasuk yang berada dalam kategori Gen Z, dari beragam masalah dan tantangan seperti buta huruf Al-Qur’an, darurat kejahatan seksual terhadap anak, judi online, narkoba, tawuran pelajar, dan tindakan kriminal lainnya, sehingga bisa mewujudkan panen bonus demografi positif tahun 2045.


“Karenanya agar JPRMI tidak hanya fokus pada masalah “tajwid”, tetapi juga efektif dengan itu mengembangkan semangat memberantas buta huruf al Quran dan memahami serta mengamalkan nilai-nilai al Quran. Juga sangat dipentingkan menginisiasi berbagai aktifitas sosial, olahraga, kursus-kursus dan kegiatan-kegiatan alternatif yang positif bagi Gen Z seperti yang terkait dengan Medsos/AI. Berbagai permasalah yang mendera era Gen Z seperti kejahatan seksual terhadap anak, judi online, narkoba dan kejahatan kriminal seperti anak membunuh orangtua atau sebaliknya orangtua membunuh anak merupakan masalah yang harus diatasi secara bersama. Ini tanggung jawab sosial yang penting dijadikan sebagai peluang besar bagi JPRMI untuk berkiprah lebih kuat lagi,” kata Hidayat Nur Wahid ketika menerima audiensi delegasi JPRMI di Ruang Kerja, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (6/1/2026).

Delegasi JPRMI dipimpin Otong Somantri beraudiensi untuk mengundang Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid hadir dan menjadi narasumber dalam Muktamar dan konsolidasi nasional JPRMI yang akan diselenggarakan sekitar bulan April 2026. Dalam pertemuan itu, JPRMI juga menjelaskan program-program JPRMI, termasuk terjun langsung ke daerah bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera.

HNW, sapaan Hidayat Nur Wahid, mengapresiasi JPRMI yang tetap eksis dan beraktivitas untuk peduli pada Gen Z melalui pendekatan kemasjidan dan keremajaan. Menurut HNW, kepedulian itu sangat penting untuk terus dijaga, dikembangkan, dan dilakukan dengan serius. Apalagi Indonesia menghadapi masalah yang cukup serius terkait dengan Gen Z.

Sebagai contoh, HNW menyebutkan di Medan ada kasus seorang anak perempuan kelas VI SD yang membunuh ibu kandungnya menggunakan pisau akibat terpengaruh menonton gim berisi kekerasan pembunuhan menggunakan pisau. Kasus lainnya, ada seorang anak membunuh bapak kandungnya karena sang bapak sering melakukan kekerasan terhadap ibunya. “Belum lagi laporan KPAI tentang darurat kejahatan seksual terhadap anak Indonesia termasuk Gen Z, Alpha, dan lain-lain," ujarnya.

Di sisi lain, kata HNW, angka buta huruf Al-Qur’an juga tinggi sekali. Menteri Agama menyebutkan lebih dari 70% buta huruf Al-Qur’an, sedangkan DMI menyebutkan 68%. Sementara survei terhadap mahasiswa Fakultas Agama Islam menyebutkan 60% yang tidak bisa baca Al-Qur’an dengan baik.

“Jadi, kalau tidak bisa membaca al Quran, maka hidayah Allah bagaimana akan tiba (datang). .Karena itu, salah satu pencegah dari kedaruratan kekerasan seksual terhadap anak, judi online, narkoba, dan tindakan kriminal adalah ketika komunitas agama, terutama Islam, mendapatkan pencerahan dari kitab sucinya, maka sudah sangat wajar bila JPRMI memaksimalkan kegiatannya dengan berkolaborasi bersama Takmir Masjid, Remaja Masjid, Majelis Taklim, maupun organisasi/lembaga lain sejenis, agar anak-anak muda terselamatkan dengan aktifitas-aktivitas dari dalam kegiatan di masjid yang menarik dan menghadirkan solusi,” ujar HNW.

Menurut HNW, masjid menjadi sarana efektif untuk membuat remaja mempunyai alternatif kegiatan yang menyenangkan. Di masjid mereka mempunyai teman dan tidak sendirian. Di masjid tidak ada kegiatan-kegiatan kejahatan karena di masjid tidak ada narkoba, judol, atau tindakan kriminal lainnya. Di masjid tidak mungkin melakukan kejahatan.

Apalagi, lanjut HNW, upaya itu penting dalam konteks menyongsong Indonesia Emas 2045. Mengutip Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat, HNW mengatakan untuk melihat nasib bangsa 20 tahun yang akan datang maka lihatlah kondisi 20 tahun sebelumnya. “Maka tergantung apa yang kita tanam sekarang ini menuju tahun 2045. Apa yang kita kerjakan sekarang akan berdampak pada 2045 nanti, apakah kita akan memanen bonus demografi positif pada 2045 atau sebaliknya justru bonus demografi negatif,” jelasnya.

“Kalau kita biarkan anak-anak berkembang dalam kondisi sebagai korban judol, korban kekerasan seksual, korban game online, korban narkoba, maka ibarat tanaman, ini adalah tanaman yang buruk. Kalau dipanen, pasti buahnya tidak bagus. Kalau tidak dipedulikan atau dibiarkan menjadi korban dari berbagai kedaruratan itu, mereka tetap akan mengisi kehidupan di tahun 2045. Alih-alih akan hadir Indonesia Emas, tetapi Indonesia yang lemas yang tidak sesuai dengan cita-cita Proklamasi dan Reformasi-lah yang akan mengisi tahun 2045. Hal yang harus diwaspadai dan dikoreksi," pungkas HNW yang disambut sangat antusias oleh pimpinan JPRMI yang hadir menemui HNW di ruang kerja pimpinan MPR.


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI